Jumat, 22 Oktober 2010

Elang Jawa (Javan Hawk-eagle)

Status konservasi : Terancam

Klasifikasi ilmiah

Kerajaan: Animalia

Filum: Chordata

Kelas: Aves

Ordo: Falconiformes

Famili: Accipitridae

Genus: Spizaetus

Spesies: S. bartelsi

Nama binomial

Spizaetus bartelsi

Elang jawa merupakan salah satu jenis burung pemangsa yang unik dan hanya terdapat di Pulau Jawa. Ciri khasnya memiliki mata yang garang dan jambul yang indah serta paruh yang kokoh dan tajam untuk mengoyak mangsanya. Karena kenampakan elang jawa yang nama latinnya Nisaetus bartelsi, mempunyai kemiripan dengan burung Garuda lambang negara Indonesia maka pada tahun 1993 ditetapkan sebagai lambang satwa langka.

Apakah Burung Garuda Sama Dengan Elang Jawa?

Pertanyaan di atas dapat saja dijawab ya, karena mungkin saja penciptaan burung garuda sebagai lambang negara kita didasarkan pada pengenalan para pejuang kemerdekaan terhadap elang jawa yang pada saat itu masih sering dijumpai karena populasinya masih banyak. Jambul elang jawa dapat menjadi salah satu ciri kesamaannya dengan burung garuda, lambang negara kita. Untuk mengenal lebih dekat lagi, sebaiknya kita telusuri ciri-ciri morfologi burung elang jawa ini.

Anak

Pada waktu baru menetas hingga berumur sekitar dua minggu, anak elang jawa masih berbulu kapas halus dan berwarna putih. Tidak lama kemudian akan tumbuh bulu jarum yang akan berkembang menjadi bulu burung periode pertumbuhan dengan bentuk mendekati sempurna dan berwarna gelap. Dalam periode ini jambul mulai tumbuh dan matanya berwarna hitam serta belum bisa terbang.

Elang Muda

Elang muda bercirikan jambul yang sudah tumbuh. Warna bulunya coklat dengan warnakemerahan pada wajah,dada, dan perut. Sedangkan tengkuk, sayap punggung, tungging dan ekornya berwarna coklat gelap. Matanya berwarna biru, kemudian secara bertahap warnanya akan memudar menjadi kuning muda. Taji serta bulu pada kakinya mulai tumbuh.

Elang Dewasa

Seperti halnya pada semua jenis elang, burung betina memiliki ukuran tubuh yang lebih besar dan lebih kekar daripada jantan. Panjang tubuh berkisar antara 60 dan 70 cm dengan bobot sekitar 2,5 kg. jambulnya berwarna kehitaman dengan warna putih pada ujungnya. Matanya berwarna kuning. Kepala, punggung sayapa dan ekornya coklat tua dengan ujungnya berwarna krem. Leher dada dan perutnya berwarna cokelat dengan garis-garis coklat tua atau kehitaman. Pada ekornya terdapat empat buah pita berwarna hitam, namun pada umumnya hanya terlihat tiga buah pita yang terdapat pada pangkal ekor sering tersembunyi.kakinya relatif pendek dan kokoh serta tertutup bulu. Tajinya panjang dan runcing.

Ukuran elang jantan dewasa lebih kecil dari betina dewasa. Secara keseluruhan warna bulunya mirip dengan betina hanya garis-garis pada perutnya tidak jelas.

Dimana dan Bagaimana Kehidupan Elang Jawa?

Elang jawa menghuni hutan hujan yang terdapat mulai dari permukaan air laut sampai ketinggian 3.000 meter. Tapi lebih menyukai daerah dengan ketinggian antara 200 hingga 2000 meter. Jenis hutan yang dihuninya meliputi hutan primer,sekunder, bahkan hutan produksi. Hutan produksi yang disukai adalah hutan pinus. Elang jawa biasanya bersarang di hutan primer, sekunder atau hutan pinus. Pohon sarang yang terpilih biasanya terletak di lereng bukit dan merupakan pohon tertinggi di sekitar daerah tersebut atau pohon yang salah satu cabangnya mencuat dari bagian tajuk jenis pohon yang telah tercatat meliputi, Rasamala, Pasang, Pinus, dan Puspa, tetapi jenis pohon yang sering digunakan untuk bersarang adalah pohon rasamala.

Sarang biasanya berbentuk seperti mangkuk dan dibuat pada dahan dengan ketinggian 30 m atau lebih dari permukaan tanah. Bahan sarang terdiri fari ranting, akar tanaman anggrek serta dedaunan.

Dalam piramida makanan di alam, elang jawa menduduki posisi puncak yaitu sebagai pemangsa hewan vertebrata lain. Berbagai jenis mamalia kecil lainnya hingga sedang seperti kelelawar, bajing, tupai, dan tikus, juga burung serta reptilia tercatat sebagai mangsanya. Ukuran mangsa yang terbesar adalah anak monyet. Tetapi mangsanya yang paling disukai adalah bajing dan tupai.

Daur Hidup Elang Jawa

Elang jawa bertelur hanya satu butir per masa bertelur. Terlurnya berbentuk lonjong dan berukuran sekitar 60 x 42 mm. cangkangnya berwarna putih kusam bebintik coklat tanah. Telur ini akan dierami induk betina selama 47 hari.

Setelah telur menetas, anak elang akan tetap berada di dalam sarang, dan selama itu pula kedua induk bekerjasama merawat anak mereka. Perawatan yang dilakukan meliputi menyuapi dan menjaga anak yang dilakukan secara bergiliran, sedangkan untuk mengerami atau menghangatkan anak hanya dilakukan oleh induk betina. Untuk memberi makan anaknya, induk jantan rajin membawa mangsa ke sarang setiap pagi sedangkan induk betina melakukannya pada siang hari atau sore hari.

Mulai umur dua minggu bulu anak elang jawa akan berangsur-angsur berganti menjadi bulu jarum yang selanjutnya tumbuh menjadi bulu sempurna yang berwarna kecoklatan. Selama pertumbuhan bulunya belum lengkap, anak akan tetap tinggal di dalam sarang.