Kamis, 13 Januari 2011

Birdwatching for Bird Conservations



Pengamatan Burung untuk Konservasi Burung


Mengamati alam dan hidupan liarnya adalah kegiatan yang besar maknanya untuk mendekatkan manusia kepada alam. Burung adalah anggota kelompok hewan bertulang belakang (vertebrata) yang memiliki bulu dan sayap. Burung adalah indikator yang baik untuk mengidentifikasi daerah yang kaya keragaman hayatinya, termasuk perubahan dan masalah lingkungan yang ada. Burung mempunyai ciri morfologi yang khas, antara lain memiliki paruh, sayap dan kaki yang berbeda-beda bentuknya tergantung jenis, jenis makanan dan habitat tempat hidupnya. Burung berbeda-beda warna dan bentuknya. Ada yang warnanya cerah cemerlang atau hitam legam, yang hijau daun, coklat gelap atau burik untuk menyamar, dan lain-lain. Ada yang memiliki paruh kuat untuk menyobek daging (elang), mengerkah biji buah yang keras (burung manyar), runcing untuk menombak ikan (burung kormoran), pipih untuk menyaring lumpur (bebek), lebar untuk menangkap serangga terbang (burung kacamata biasa), atau kecil panjang untuk mengisap nektar (kaua). Ada yang memiliki cakar tajam untuk mencengkeram mangsa, cakar pemanjat pohon, cakar penggali tanah dan serasah, cakar berselaput untuk berenang, cakar kuat untuk berlari dan merobek perut musuhnya dan sebagainya.
Indonesia memiliki keanekaragaman jenis burung yang tinggi, mengingat letak geografis Indonesia yang dilewati garis khatulistiwa yaitu sebesar 17% atau sejumlah 1400 jenis dari kekayaan jenis burung dunia. Peran burung di alam antara lain merupakan sumber ilmu pengetahuan dan teknologi, mengembangkan sosial budaya manusia, membangkitkan nuansa keindahan yang merefleksikan penciptanya, sebagai sumber kehidupan, penghidupan dan kelangsungan hidup bagi manusia, karena potensial sebagai sumber pangan, obat-obatan serta kebutuhan yang lain.
Beberapa tahun belakangan ini telah tumbuh kegiatan pengamatan burung (birdwatching) di kalangan pemuda dan pelajar. Pengamatan burung merupakan kegiatan mengamati burung di alam bebas. Melihat burung di alam memiliki impression tersendiri dibanding melihat burung yang dikurung di sangkar. Orang yang mengamati dan menaruh perhatian kepada burung dapat disebut pengama/pemerhati burung (birdwatcher). Saat ini jumlah pengamat burung di dunia terus berkembang pesat tak terkecuali di Indonesia. Banyak dibentuk organisasi-organisasi pengamat dan pemerhati burung. Di Indonesia, kelompok-kelompok pengamat burung memang sudah lama ada, terutama di wilayah Jawa dan Bali. Eksisnya kelompok pengamat burung juga ditunjang oleh kekuatan biodiversitas burung yang ada di Jawa, Bali dan seluruh Indonesia dan juga organisasi-organisasi internasional yang eksis dalam konservasi burung seperti Birdlife International Indonesia dan Wetland International Indonesia, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) dan masih banyak lagi kelompok-kelompok pengamat burung yang tersebar di Indonesia. Sedangkan di tingkat internasional, misalnya Birdlife International, Wetland International, the World Wide Fund for Nature (WWF), The Wildlife Conservation Society, dan The Oriental Bird Club.
Mengamati burung di alam bebas tidaklah sulit, namun perlu metode serta pengetahuan tentang teknik-teknik pengamatan di lapangan. Seekor burung mungkin berada di tempat yang tinggi dan tidak begitu jelas terlihat karena terhalang oleh rapatnya dedaunan. Oleh karena itu, dalam pengamatan dibutuhkan teropong (binokuler atau monokuler) dan buku panduan lapangan (buku panduan lapangan John MacKinnon untuk Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan dan Bali). Dalam pengamatan yang tidak kalah penting adalah memperhatikan hal-hal berikut, antara lain warna pakaian tidak boleh terlalu mencolok, memakai sepatu, tidak gaduh, dan membuat catatan lapangan.
Mengamati burung adalah aktivitas yang sangat menyenangkan, terlebih lagi bila dilakukan secara berombongan bersama anggota keluarga, teman, sahabat atau kerabat, sangat seru. Kegiatan pengamatan burung adalah perpaduan kegiatan petualangan, ilmiah, pendidikan dan konservasi. Saat ini banyak pihak yang mengembangkan kegiatan pengamatan burung di alam sebagai kegiatan alternatif cara mencintai burung tanpa harus memeliharanya dalam sangkar. Semakin lama melakukan kegiatan tersebut, maka sang pengamat burung akan makin mencintai aktifitasnya dan merasakannya sebagai sebuah seni dan hobi.
Semakin berkembangnya teknologi dan ilmu pengetahuan ternyata berdampak pada semakin berkurangnya keanekaragaman jenis burung dengan punahnya spesies-spesies tertentu. Faktor-faktor yang mendorong semakin meningkatnya kepunahan antara lain: kerusakan hutan, kerusakan habitat, fragmentasi habitat, kerusakan ekosistem, perubahan iklim global, perburuan, penyakit dan polusi. Oleh karena itu, peran pengamat dan pemerhati burung sangat diperlukan. Pengamat burung berfungsi seperti mata dan telinga untuk mengawasi keadaan planet kita. Daftar jenis dan pengamatan mereka sangat penting bagi ilmuan dalam menentukan upaya pelestarian lingkungan. Secara tidak langsung, ketika kita mengamati burung di alam, kita telah mencintai burung dan menghargai hak kebebasan hidup burung di alam liar. Menikmati keindahan burung serta kicauannya menjadi hak semua orang. Menjaganya agar terus lestari adalah menjadi tugas kita bersama. Hal itulah yang menghubungkan antara pengamatan burung dengan konservasi. Kegiatan-kegiatan pengamat burung dalam upaya konservasi antara lain mengadakan seminar pendidikan lingkungan, lomba pengamatan burung dan pertemuan pengamat burung sedunia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar